Oleh: Margiati, S.Pd.,M.Pd.
Kegelisahan yang Tak Tidak Bisa Disimpan Sendiri
Ada kegundahan yang menyergap saat pertama kali menapaki tugas di sekolah besar yang pernah menjadi sekolah favorit ini: SMPN 1 Sragi, sebuah nama yang cukup diperhitungkan di wilayah Sragi, Kabupaten Pekalongan.
Di awal tahun bertugas, terlihat perpustakaan sepi pengunjung. Berdasar data kunjungan murid, sepekan rata-rata pengunjung hanya mencapai 80 murid. Berarti, sehari rata-rata hanya 12-15 murid. Angka yang memprihatinkan. Fakta lainnya, majalah dinding terlihat usang. Setelah saya cek ternyata majalah dinding itu sudah tertempel dua tahun lebih di papan pajang perpustakaan sekolah. Warnanya sudah mulai menguning, tulisan, gambar, dan aneka artikel yang tertempel tampak memudar dan sulit terbaca. Di kelas-kelas, tidak tampak pojok baca, belum tampak geliat membaca dan menulis. Setelah saya telusur, pernah ada kegiatan pembiasaan membaca, tetapi berhenti karena pandemi Covid-19. Setelahnya, usai tak ada jejak lagi.
Rendahnya daya baca tulis murid-murid ini tidak bisa disederhanakan menjadi kurangnya minat baca. Kita harus lebih jeli dan bijak melakukan analisis. Mengapa? Ada apa? Hal ini bisa jadi merupakan akumulasi berbagai sebab. Derasnya arus informasi global melalui gawai dan media elektronik, minimnya keteladanan dari guru dan orang tua, serta tanpa kita sadari, budaya sekolah yang lebih sering menekankan hasil daripada proses menjadi berbagai sebab pemicunya.
Bukan bermaksud menyalahkan, tetapi kurang bijaknya mereka menggunakan teknologi modern itu ternyata menjadi bumerang. Paparan video pendek dan artikel singkat membuat murid-murid kita terbiasa dengan budaya instan. Mereka terbiasa menerima potongan-potongan informasi tanpa diajak menelusuri asal muasal dan akar persoalan. Keteladanan dari figur guru dan orang tua juga ikut ambil peran dalam fenomena ini. Murid butuh contoh, butuh dibiasakan. Lalu budaya sekolah yang kadang masih mengutamakan hasil daripada proses membuat para murid cenderung mengambil jalan pintas. Mereka terbiasa mencari jawaban melalui searching, bukan membaca buku. Akibatnya, daya nalar rapuh, susah berpikir kritis analitis, dan malas melakukan kegiatan baca tulis.
Kegelisahan ini tak boleh disimpan sendiri: gelisah melihat sepinya ruang-ruang baca, gelisah menyaksikan murid-murid yang enggan belajar, gelisah melihat mereka lebih asyik dengan gawai daripada membuka lembaran buku, gelisah karena menyadari daya pikir kritis mulai melemah. Apabila sekolah abai terhadap persoalan ini, maka dampaknya sangat panjang. Akan lahir generasi yang rapuh dalam bernalar. Mereka sulit diajak berdiskusi, apatis, mudah terpengaruh informasi-informasi palsu, dan dampak panjanganya bukan sekadar berpengaruh terhadap prestasi akademik, tetapi akan mengganggu ketercapaian generasi unggul dambaan bangsa ini.
Bergerak: Mengubah Pola Pikir dan Maju Bersama
Saya sadar. Budaya berliterasi bukan sekadar program yang bisa disulap dalam kurun sebulan dua bulan. Menumbuhkan budaya literasi tidak seperti melakukan pengecatan tembok bangunan, yang bisa disulap dari kusam menjadi cerah merekah dalam tempo satu pekan. Budaya harus dipoles dari akarnya. Mencari akar permasalahan, menumbuhkan motivasi, menggerakkan seluruh komponen sekolah dan membangun budaya berkesinambungan. Membuat gebyar program itu mudah, tetapi merawat dan melestarikan itu butuh perjuangan.
Kami juga menyadari, literasi tidak tumbuh dari wejangan panjang atau banyaknya slogan tertempel di dinding-dinding sekolah. Budaya literasi hanya bisa tumbuh melalui kesadaran, pembiasaan, dan pendampingan berkelanjutan. Oleh karena itu, gerakan literasi kami mulai dengan pembiasaan membaca tiga hari dalam tiap pekan. Mereka membaca, merangkum, dan berlatih menuangkan gagasan isi buku dalam kalimat mereka sendiri. Merangkum hasil bacaan bukan kami posisikan sebagai beban administratif, tetapi ini adalah langkah awal bagaimana mereka menentukan gagasan pokok dan merangkainya menjadi paragraf utuh.
Pengalaman membuktikan bahwa kebiasaan yang tidak memiliki tujuan nyata dan jelas akan segera menguap dan hanya sekadar rutinitas yang menjemukan. Oleh karena itu, saya bersama tim literasi bergerak untuk menyusun program-program unggulan yang memungkinkan seluruh warga sekolah ikut bergerak, bukan hanya murid. Prinsip kami, guru adalah ujung tombak setiap kegiatan. Keteladanan jauh kebih penting daripada sekadar kata-kata petuah dan nasihat. Maka, dari awal kami sudah mulai menata program literasi untuk seluruh warga sekolah. Bergerak bersama, berjuang bersama.
Untuk memperkaya kemampuan menulis, kami mengadakan pelatihan menulis puisi, cerpen, dan berita/reportase Bukan hanya untuk murid-murid, tetapi juga untuk para guru. Kami menggandeng penulis dan sastrawan lokal termasuk reporter untuk memberikan pelatihan menulis. Kegiatan ini disambut antusias oleh peserta. Workshop kepenulisan yang diikuti sekitar 55 guru dan tenaga administrasi serta 100 murid ini tentu saja bukan sekadar program, tetapi harus mampu menghasilkan karya yang akan dikenang warga sekolah, yaitu berupa buku-buku ber-ISBN yang akan menempati rak buku perpustakaan sekolah kami.
Maka di tahun itu juga, kami melakukan gebrakan program melalui pengadaan pojok baca tiap kelas, menghidupkan mading kelas, membuat berbagai even lomba menulis, dan menjalin kerjasama dengan Nyalanesia untuk mengadakan kegaiatan GSMB:Gerakan Sekolah Membaca dan Menulis Buku. Program-program tersebut sangat berarti bagi sekolah kami. Murid mendapatkan manfaatnya melalui kemudahan mendapatkan akses membaca dan menulis, penerbitan karya, dan menumbuhkan kembali gairah memabaca dan menulis. Para guru juga tergerak untuk menulis. Kami juga menggandeng penerbit lain dan membukukan hasil karya guru dalam antologi puisi dan cerpen. Hasilnya, di tahun pertama kami berhasil menerbitkan 3 buku antologi cerpen dan puisi karya guru bersama murid. Giat yang sudah berlangsung empat tahun itu kini telah membuahkan 9 judul buku ber-ISBN hasil karya guru dan murid.
Digitalisasi Memperkaya Khazanah Literasi
Apakah program hanya berhenti pada kegiatan menerbitkan buku? Tentu saja tidak. Ada berbagai program lain yang harus berjalan beriringan agar kegiatan literasi dapat terdokumentasikan dengan baik dan bisa diakses oleh khalayak. Kita memiliki banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk menumbuh kembangkan budaya literasi sekolah.
Selain menerbitkan buku, kita juga mengawal kegiatan mading kelas. Ini penting agar setiap murid memiliki ruang untuk mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan. Maka, setiap kelas wajib memiliki mading kelas dan pojok baca yang terstruktur di bawah bimbingan guru Bahasa Indonesia dan wali kelasnya masing-masing. Mading terbaik akan diapresiasi dengan memasangnya ke papan madding pusat yang terletak di perpustakaan. Ini menjadi motivasi tersendiri bagi para murid untuk selalu meningkatkan kualitas isi dan tampilan mading mereka.
Kalau kita hanya mengandalkan literasi buku dan majalah dinding saja, mungkin getaran dan resonansi literasi hanya bisa dijangkau oleh wilayah sekolah. Kita ingin giat literasi ini juga bisa menjangkau wilayah yang lebih luas. Maka, para murid dan guru kita beri ruang platform digital berupa website dan blog sekolah yang digunakan untuk mengunggah hasil karya. Harapan besarnya sekolah memiliki wadah untuk menampung hasil karya tulis mereka.
Untuk menjadikan sekolah yang literat kita juga harus mengoptimalkan leterasi verbal atau lisan. Di situlah kami mulai berpikir bahwa anak juga perlu belajar menyampaikan ide dalam bentuk lisan. Untuk mengakomodasi hal itu, kami siapkan podcast sebagai ruang digital yang dapat menampung bakat dan minat broadcasting untuk murid-murid dan guru. Melalui podcast sekolah, kita dapat memperbincangkan berbagai topik yang sedang hit atau diminati masyarakat, mulai dari topik hobi, organisasi OSIS, Rohis, Pramuka PMR, kejuaraan akademik dan nonakdemik dan topik-topik menarik lainnya. Para murid dilatih tentang teknik mewawancarai dan diwawancarai. Di sinilah SMPN 1 Sragi ikut andil di dunia digital dalam memperluas komunikasi dengan dunia luar.
Dampak yang Mulai Terlihat dan Tantangan yang Dihadapi
Perubahan memang tidak bisa disulap seketika. Butuh proses dan tahapan yang terus dikawal. Namun, dampak program-program itu kian nyata. Mulai dari terbiasanya murid dan guru dengan kebiasaan membaca dan menulis, tertatanya struktur berbicara murid saat menyampaikan pendapat, dan riuhnya ruang tulis menulis di kelas maupun pada event-event tertentu yang diselenggarakan sekolah, naiknya pengunjung perpustakaan secara perlahan-lahan. Di bidang nonakademik beberapa murid menjuarai lomba tingkat kabupaten pada even lomba membaca puisi, membaca berita, masuk nominasi lomba menulis cerpen, juara kabupaten lomba speech contest, juara lomba mendongeng dan berbagai dampak positif lainnya. Sementara bagi guru, menulis menjadi bagian kegiatan profesional, bukan sekadar menyuruh, tetapi mereka adalah bagian dari pelaku literasi itu sendiri. Ini tentu menjadi pengalaman yang cukup berkesan bagi mereka.
Program literasi ini bukan berarti berjalan tanpa kendala. Mempertahankan atmosfir minat baca tulis seluruh warga sekolah itu tidak mudah. Menggerakkan murid untuk kontinu menulis juga bukan perkara sepele. Hal-hal tersebut menjadi tantangan yang harus diupayakan solusinya. Di sinilah peran kepala sekolah selaku leader harus dioptimalkan. Upaya saya adalah terus melakukan koordinasi, refleksi, evaluasi, dan memompakan motivasi serta terus berbenah pada sarana dan prasarana untuk keberlanjutan program literasi ini.
Bagi saya program literasi ini bukan merupakan proyek jangka pendek. Ini adalah program kepemimpinan jangka panjang yang harus terus diupayakan. Bergerak berarti berani mengambil langkah keluar dari zona nyaman, berani mengambil risiko untuk mendapatkan perubahan berupa dampak positif bagi masa depan pendidikan. Saya meyakini ketika sebuah institusi pendidikan memberikan ruang yang cukup pada kata dan pikiran, berarti ia sedang menyiapkan bertumbuhnya generasi melek wawasan yang bernalar kritis dan bertanggung jawab secara sosial dan intelektual. Sekolah harus menjadi motor perubahan. Karena dari titik inilah masa depan bangsa sedang dipersiapkan.
