Cerpen: Aisyah Dwi Rahmawati
Setiap pagi, sebelum matahari terbit sepenuhnya, ayah sudah bangun dan menyalakan lampu dapur kecil kami. Suara sakelar yang berbunyi pelan selalu menjadi tanda mulainya hari baru. Di atas meja kayu yang sudah mulai kusam, tempe daun yang dibungkus rapi dengan daun pisang tersusun berdampingan dengan tempe plastik yang sudah dikemas bersih. Dengan penuh ketelitian, ayah memeriksa satu persatu dagangannya sebelum dimasukkan ke dalam keranjang besar yang akan diikat di boncengan motor tuanya.
Udara pagi masih terasa dingin ketika ayah mulai bersiap. Kadang aku terbangun karena suara pelan pintu dapur dibuka. Dari balik selimut, aku bisa melihat bayangan ayah yang sibuk menata dagangan.
“Ayah berangkat dulu, ya,” ucapnya lembut.
“Hati-hati di jalan, Yah,” jawabku.
“Semoga tempenya cepat habis sebelum siang,” tambah Ibu dari dapur.
Ayah tersenyum dan mengangguk. Senyum itu sederhana, tetapi selalu membuatku merasa tenang.
Ayah adalah pedagang tempe keliling. Ia berkeliling dari pagi hingga menjelang siang. Setiap hari ia menyusuri gang-gang sempit, berhenti dari satu rumah ke rumah lain. Suara motornya yang khas sering terdengar sebelum akhirnya terlihat di tikungan jalan.
Beberapa pelanggan sudah hafal jadwal kedatangannya. Bahkan ada yang langsung keluar begitu mendengar suara motor Ayah.
“Pak, seperti biasa dua bungkus,” kata seorang ibu langganan.
“Baik, Bu. Terima kasih,” jawab ayah ramah.
Jika hujan turun, ayah mengenakan jas hujan dan tetap berjualan sampai tempenya habis. Setelah itu ia segera pulang sebelum siang berakhir.
“Kalau belum habis, ayah tidak enak pulang cepat,” katanya suatu hari.
“Kenapa, Yah?” tanyaku penasaran.
“Karena setiap tempe yang terjual itu rezeki. Ayah harus berusaha semaksimal mungkin,” jawabnya.
Di rumah, Ibu selalu menunggu kepulangannya. Ia adalah ibu rumah tangga yang sabar dan teliti dalam mengatur keuangan keluarga. Menjelang siang, Ibu sering berdiri di depan rumah sambil melihat ke ujung jalan.
“Sebentar lagi Ayah pulang,” katanya dengan penuh keyakinan.
Aku sering memperhatikan tangan ibu yang mulai kasar karena perkejaan rumah. Namun tak sekali pun ia mengeluh.
Suatu hari hujan turun deras, sejak pagi. Langit tampak gelap meskipun waktu masih siang. Aku mulai khawatir. “Bu, Ayah belum pulang juga?” tanyaku cemas.
Ibu tersenyum menenangkan. “Ayah pasti memakai jas hujan. Kalau tempenya sudah habis, pasti langsung pulang.”
Tak lama kemudian terdengar suara motor yang sangat kukenal. Aku segera berlari keluar. Ayah datang dengan jas hujan yang masih basah, tetapi wajahnya terlihat lega.
“Alhamdulillah, habis semua sebelum siang,” katanya sambil tersenyum.
Aku membantu menurunkan keranjang yang kini kosong. Melihat perjuangannya setiap hari membuatku semakin memahami arti kerja keras.
Suatu malam, saat kami makan bersama, ayah bertanya, “Bagaimana sekolahmu hari ini?”
“Baik, Yah. Tadi aku dapet nilai bagus,” jawabku pelan.
Ibu tersenyum bangga. “Pertahankan ya.”
Ayah menatapku penuh harap. “Belajar yang rajin. Itu sudah cukup membuat kami bahagaia.”
Sejak saat itu, setiap kali merasa malas, aku teringat pada Ayah yang tetap berjualan meski hujan turun dan pada Ibu yang sabar menunggu di depan rumah.
Aku mulai membantu lebih banyak di rumah. Kadang aku ikut membantu membungkus tempe di malam hari. Ayah mengajariku cara membungkus dengan rapi agar tidak mudah rusak.
“Kerja itu harus sungguh-sungguh, walaupun kelihatannya sederhana,” kata ayah.
Aku mengangguk pelan. Dari hal kecil itu, aku belajar tentang tanggung jawab.
Di sekolah, aku sering merasa minder Ketika teman-temanku bercerita tentang pekerjaan orang tua mereka yang terlihat lebih hebat. Namun setiap kali pulang dan melihat ayah dan ibu, rasa minder itu perlahan hilang.
Aku sadar, pekerjaan apa pun tetaplah mulia selama dilakukan dengan jujur dan penuh usaha.
Di rumah sederhana kami, kasih sayang tidak selalu diucapkan dengan kata-kata panjang. Namun dalam setiap usaha ayah dan setiap doa ibu, aku merasakan cinta yang begitu besar.
Aku mungkin belum mampu membalas semua pengorbanan mereka sekarang. Tetapi suatu hari nanti, aku ingin membuat mereka hidup lebih tenang. Karena di balik tempe-tempe sederhana itu, tersimpan kasih yang tak terucap-kasih yang tumbuh dalam diam, namun terasa paling dalam.
Suatu sore, ketika ayah sedang memperbaiki motornya yang mulai sering mogok, aku duduk di sampingnya. Tangannya yang kasar terlihat cekatan membuka dan memasang Kembali baut-baut kecil.
“Motor ini sudah tua, ya, Yah?” tanyaku pelan.
Ayah tersenyum tipis. “Iya, sudah menemani Ayah bertahun-tahun. Selama masih bisa dipakai, kita rawat saja.”
Aku menatap motor itu lama. Motor sederhana itulah yang setiap hari membawa ayah mencari nafkah. Dari sanalah uang sekolahku berasal, juga uang untuk kebutuhan rumah.
Malam harinya, aku terlihat ayah menghitung hasil jualan dengan hati-hati. Tidak pernah sekali pun ia mengeluh meski hasilnya kadang tidak seberapa.
“Yang penting cukup dan berkah,” katanya kepada ibu.
Aku mendengar kalimat itu dan menyimpannya dalam hati.
Beberapa hari kemudian, di sekolah kami diminta menulis cita-cita. Teman-temanku menuliskan ingin menjadi dokter, pilot, atau pengusaha besar. Aku pun menulis cita-citaku dengan penuh keyakinan.
Ketika guru bertanya, “Kenapa kamu memilih itu?”
Aku menjawab, “Karena saya ingin membuat orang tua saya bangga dan hidup lebih nyaman.”
Sepulang sekolah, aku menceritakan hal itu kepada ayah dan ibu.
Ayah tersenyum lebar. “Apa pun cita-citamu, yang penting kamu jadi anak yang baik.”
Ibu menambahkan, “Dan jangan lupa berdoa.”
Malam itu, sebelum tidur, aku memandang langit-langit kamar kecilku. Aku membayangkan suatu hari nanti Ayah tidak perlu lagi berjualan di bawah terik matahari atau kehujanan. Aku ingin melihatnya beristirahat dengan tenang tanpa memikirkan dagangan yang harus habis sebelum siang.
Aku juga ingin ibu tak lagi cemas menunggu di depan rumah saat hujan turun. Aku ingin ayah dan ibu lebih sering tersenyum karena bahagia, bukan karena lelah yang disembunyikan.
Hari-hari terus berjalan dengan sederhana, tetapi penuh keteguhan. Dari mereka aku belajar bahwa cinta tidak selalu diucapkan, melainkan dibuktikan lewat kerja keras dan doa.
Kasih itu mungkin tak terucap, namun selalu terasa dalam setiap langkah kehidupan kami.
Sragi, Februari 2026
Aisyah Dwi Rahmawati, biasa dipanggil Aisyah. Ia dilahirkan di Pekalongan, 7 Oktober 2011. Saat ini sedang bersekolah di SMP Negeri 1 Sragi. Alamat rumah Desa Mejasem, RT 03 RW 04, Kec.Siwalan, Kab.Pekalongan.