Cerpen: Kaila Azzahra
Senja adalah siswi kelas sembilan yang tinggal di sebuah desa kecil di pinggir sawah. Rumahnya sederhana, berdinding bata tanpa cat, tetapi selalu menyimpan doa. Setiap pagi, ia melihat ayahnya berangkat ke sawah dengan cangkul dan di pundak, sementara ibunya sibuk menyiapkan adonan cookies yang akan dijual ke warung-warung sekitar desa.
Sejak kecil, Senja dikenal sebagai anak yang rajin berdoa. Ia jarang melewatkan salat dan sering membantu ibunya membuat cookies. Sore hari, ia selalu menunggu ayah pulang sambil mendengarkan cerita tentang sawah dan musim panen.
Namun semuanya mulai berubah ketika Senja naik ke kelas sembilan. Banyak teman-temannya sudah memiliki ponsel pintar. Mereka bercerita tentang media sosial dan permainan daring. Senja ia merasa tertinggal. Ia ingin seperti mereka.
Suatu malam setelah makan, Senja memberanikan diri untuk berbicara.
“Ayah, Senja ingin punya ponsel seperti teman-teman,” ucapnya pelan.
“Nanti Ayah usahakan,” jawab ayahnya lembut.
Sejak saat itu, ayah bekerja lebih lama di sawah. Ia tetap bertahan di bawah terik matahari meski tubuhnya semakin letih. Ibu juga menerima lebih banyak pesanan cookies, bahkan hingga larut malam masih memanggang adonan di dapur kecil mereka. Uang sedikit demi sedikit dikumpulkan tanpa sepengetahuan Senja.
Beberapa bulan kemudian, sebuah kotak kecil diberikan kepada Senja. Ponsel baru. Wajah Senja berseri-seri. Ia memeluk ibunya sekilas, lalu sibuk membuka kemasan dan menyalakannya. Hatinya dipenuhi kegembiraan.
Sejak memiliki ponsel itu, dunia Senja berubah. Ia lebih sering mengurung diri di kamar, tertawa sendiri menatap layar, atau larut dalam permainan tanpa mengenal waktu. Panggilan ibu sering ia jawab singkat. Cerita ayah tentang sawah tak lagi ia dengarkan dengan antusias seperti dulu.
Salat yang dahulu tak pernah ia lewatkan mulai tertunda. Kadang ia berkata, “Sebentar lagi,” tetapi sebentar itu berubah menjadi lupa. Alarm pengingat salat dikalahkan oleh notifikasi media sosial. Waktu magrib yang dulu selalu membuatnya bergegas mengambil wudu kini hanya menjadi jeda singkat sebelum ia kembali menunduk pada ponselnya.
Bagi Senja, hari-hari selalu berjalan sama. Pulang sekolah, makan seadanya, lalu bermain ponsel hingga larut. Ia merasa orang tuanya terlalu banyak menuntut dan terlalu sering menasihati. Menurutnya, diam dengan ponsel adalah cara terbaik untuk menghindari ceramah yang tidak ia sukai.
Suatu malam, listrik tiba-tiba padam. Layar ponsel Senja ikut menghitam. Ia mendengus kesal dan meletakkan ponsel di sampingnya. Dalam gelap, ia melihat siluet ayahnya berdiri, mengambil sajadah, dan berjalan menuju kamar.
Entah mengapa, ada rasa asing yang singgah di dada Senja. Ia memperhatikan ibu yang duduk di kursi, memijat kakinya sendiri dengan napas tertahan. Senja ingin bertanya, tetapi gengsi membuatnya diam. Ia memilih kembali merebahkan tubuh, menunggu listrik menyala, menunggu dunia kecilnya kembali hidup.
Pagi datang dengan cahaya redup yang menembus jendela ruang tamu. Listrik telah menyala sejak subuh, tetapi Senja tidak langsung meraih ponselnya. Pikirannya masih tertinggal pada sunyi semalam yang terasa berbeda. Ada perasaan ganjil yang sulit ia jelaskan, seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat ia miliki.
Saat hendak berangkat sekolah, Senja melihat ibunya duduk lemah di kursi makan. Wajah ibu tampak pucat, gerakannya lebih lambat dari biasanya. Ayah berdiri di sampingnya, menyiapkan segelas air hangat dengan raut cemas. Senja terdiam, langkahnya tertahan tanpa ia sadari.
Sepulang sekolah, rumah terasa semakin sunyi. Tak ada suara panci, tak ada aroma masakan yang biasa menyambutnya. Senja bergegas ke kamar dan mendapati ibunya terbaring dengan mata terpejam. Ayah duduk di samping ranjang, menggenggam tangan ibu erat seakan takut melepaskannya.
Sejak hari itu, Senja mulai melihat hal-hal yang dulu luput dari perhatiannya. Ayah yang bangun lebih awal untuk salat, lalu menyiapkan sarapan sederhana. Ibu yang tersenyum meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Dan sajadah yang selalu terhampar rapi di sudut kamar, tak pernah benar-benar sepi.
Suatu malam, Senja terbangun karena suara lirih dari ruang tengah. Ia mengintip pelan dan melihat ayahnya bersujud lama. Doa-doa mengalir dengan suara bergetar, menyebut nama Senja berkali-kali. Hati Senja terasa sesak, matanya panas, dan dadanya dipenuhi rasa bersalah.
Untuk pertama kalinya, Senja menyadari bahwa selama ini ia tidak benar-benar sendirian. Ada doa yang terus mengikutinya, meski ia memilih menunduk pada layar ponsel. Malam itu, tanpa disuruh siapa pun, Senja mengambil sajadah. Ia menggelarnya sendiri. Tangannya gemetar saat mengangkat takbir. Air matanya jatuh bahkan sebelum ia selesai membaca doa iftitah.
Dalam sujudnya, Senja menangis. “Ya Allah, maafkan Senja. Ayah dan Ibu sudah berjuang begitu keras, tapi Senja malah lalai,” bisiknya lirih.
Setelah salam terakhir, Senja tetap duduk di atas sajadah. Ujung sajadah itu basah oleh air mata penyesalan.
Di situlah ia membuat sebuah janji. Ia berjanji akan menjaga salatnya, membantu ibu tanpa diminta, menghargai setiap usaha ayahnya, dan tidak lagi menjadikan ponsel sebagai pusat hidupnya.
Sragi, Februari 2026
Kaila Azzahra dilahirkan di Pekalongan, tanggal 30 September 2011.Saat ini menempuh pendidikan di SMPN 1 Sragi.Alamat rumah Desa Sijeruk ,RT 02 RW 10, kec.Sragi, Kab.Pekalongan. Beberapa karya yang dihasilkan di antaranya ialah puisi “Tangan yang Saling Menggapai” yang terhimpun dalam buku antalogi puisi Pudarnya Kemanusiaan, yang diterbitkan pada tahun 2025 serta cerpen yang terhimpun dalam antologi Jejak Bakti di Telapak Waktu (2026)
