Cerpen: Siti Khotijah
Semilir angin senja bertiup menggugurkan dedaunan. Burung-burung terbang menjauh dari pandangan, kembali ke sarangnya. langit menampakkan kemilau jingga, hendak mengantarkan sang surya kembali ke peraduannya. Dari kejauhan terdengar suara azan bersahut-sahutan menggemakan lantunan asmaNya. Gemericik air sungai mengalir deras ke persawahan. Tikus-tikus berlarian, menyusup ke sela-sela rimbunan padi.
” Lek No, ayo muleh! Wes magrib iki lek”
” Oh yo Dul. Monggo ndisek, aku tanggung iki.sedelo maneh“
” Yowes aku tak muleh sek yo Lek?”
” Yo Dul”
Suara lek Darno menyahut lirih sembari mecangkul galengan di seperempat sawahnya.
Lelaki paruh baya ini merupakan seorang petani yang sangat rajin dan gigih dalam bekerja.
Panennya jarang pernah gagal. Terkadang dia mendapatkan padi yang melimpah terutama saat panen raya.
“Ya Allah paringono lancar lan berkah, supaya panen iki biso nurah-nurah” tuturnya dalam hati seraya mengelap keringat di wajahnya.
Tak lama kemudian dia menghentikan cangkulnya dan bergegas meraih sepeda tuanya yang dia sandarkan di pohon randu dekat jalan tak jauh dari persawahan miliknya.
“Kletek, kletek, kletek “
Suara sepeda tua itu terdengar mengiringi kayuhan kaki Lek Darno.
***
“Lha mbok jangan terlalu lho Pak kalau bekerja, waktunya pulang ya pulang. Selalu lupa waktu.”
” Siapa yang lupa waktu to?”
“Lha itu jam segini baru pulang. Aku malu lho Pak, sama tetangga.”
“Kenapa mesti malu Bu. Wong Bapak yo gak minta-minta kenapa mesti malu. Wes wes sana buatkan teh saja. Iki lho suamimu kesel, malah dipaido. “
“Iya Pak, Bapak mandi dulu lalu sholat. Ibu sudah buatkan teh dari tadi. Nanti kita sekalian makan bersama.”
Dari belakang Andini menghampiri Lek Darno
“Niki pak handuke“
“Oh yo, Suwun nduk.”
Diam-diam Andini mendengarkan percakapan orang tuanya. Percakapan seperti tadi selalu terdengar bahkan setiap hari karena Lek Darno terlalu bersemangat dalam bekerja. Dia bekerja keras tidak lain hanya untuk kebahagiaan anak dan istrinya. Dia sangat menyayangi keluarganya.
***
Suara ayam berkokok menambah riangnya pagi ini. Seperti biasanya Lek Darno bangun pagi sekali. Dia tak lupa membangunkan Anak dan istrinya. Setelah itu langsung bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap sholat subuh. Setelah selesai mandi dia menuju ke belakang rumah untuk mengambil air wudhu dan segera pergi ke surau dekat rumahnya untuk sholat berjamaah. Rumah Lek No masih tampak asri karena berada di daerah pedesaan yang masih dikelilingi pohon-pohon rindang. Jarak antar satu rumah dengan rumah yang lain pun tidak terlalu dekat. Tetapi jiwa sosial dan gotong royong di sana masih dijunjung tinggi. Setiap minggu ada kegiatan kerja bakti sosial yang dipelopori oleh anak muda di lingkungan tersebut. Tetapi para orang tua pun tidak mau kalah. Mereka bahu-membahu saling tolong menolong dalam hal apapun. Bahkan jika ada tetangga yang memiliki hajatan, membangun rumah, mereka tidak segan untuk membantu. Termasuk Lek No beliau adalah laki-laki yang sudah lanjut usia tetapi memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Beliau tidak pernah menolak jika ada orang yang datang ke rumah meminta bantuan. Entah siapapun yang datang beliau pasti siap membantunya. Hingga suatu hari datanglah seseorang yang dengan tergesa-gesa mengetuk-ngetuk pintu rumah Lek No.
” Lek, lek ” suara itu terdengar keras menggedor-gedor pintu rumah Lek No
” Lek aku Yanto lek, tulung lek”
Karena mendengar suara yang sangat lumayan keras itu Lek No bergegas membukakan pintu.
“Ono opo Nto?”
“Lek aku nyuwun tulung lek…”
“Tulung opo Nto. Kene, kene lungguh sek. Ono opo to?“
“Lek tulung lek, bojoku arep babaran lek.aku sama sekali ora nyekel duit lek. Mung duit tabungan ora sepiro ning celengan. Ora cukup kanggo bayar lek. Aku bingung lek arep digowo maring ngendi bojoku. Saiki mules-mules tak tinggal ning umah. Aku bingung lek. Tulung lek…“
“Waduh… kepiye yo Nto. Sakjane sawah ku yo durung panen. Si nduk yo arep bayar sekolah, kebutuhan yo akeh.”
“Iyo lek aku ngerti, tapi aku arep njaluk tulung sopo lek. Mung Lek No sing biso tak arepake Lek” Yanto memohon dengan harap kepada Lek No sampai Lek No iba, tidak tega melihat Yanto memohon seperti itu.
“Kowe butuh piro?“
“5 juta lek. Mengko nek panen tak ganti Lek. Tenan Lek.“
“Hmmm.. yowes Nto. dinteni sedelo yo” gumam Lek No sambil menghela nafas panjang.
Lek No berjalan menuju ke kamarnya dan mengambil uang yang sebenarnya untuk membayar sekolah Andini dan untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk membiayai sekolah dan lain-lain Lek No tidak mengandalkan apapun selain hasil panen sawahnya. Uang tabungannya sudah banyak dipakai untuk makan, biaya sekolah, membeli pupuk dan lain-lain. Terakhir panen kemarin juga hasil padi tidak terlalu banyak seperti biasanya. Jadi uang tabungan yang ada hanya seberapa saja.
“Iki Nto, aku mung biso nyilihi 3 juta. Semoga bisa untuk membantu sampean dan keluarga.”
” Iya lek gak papa matursuwun lek. Saya sangat berutang Budi sama lek No. Insyaallah nanti kalau panen saya bayar utang saya lek. Sekali lagi matursuwun.”
” Sudah dipikir nanti saja. Sana barangkali istrimu sudah menunggu.”
“Nggeh lek. Kulo pamit riyen. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam…”
Begitu besar hati Lek No kepada siapapun. Dia tidak pernah memandang siapapun yang dia bantu. Selama dia masih mampu dan ada, dia tidak pernah menolak untuk dimintai tolong.
***
“Kepiye to pak. Bantu gak papa. Tapi lihat-lihat to pak, kebutuhan banyak. Mau buat bayar ini bayar itu. Malah dipinjamkan. Kemarin si Wasdul pinjam dikasih. Minggu lalu Lek Kirman dikasih. Janjinnya minggu ini mau dibayar tapi sampai sekarang belum ada yang ngasih. Baik boleh pak, tapi jangan terlalu baik sama orang. Nanti malah Bapak yang dibodohi. Sekarang Yanto. Dia kan dulu menghina keluarga kita Pak. Waktu dulu dia masih punya banyak harta seolah-olah merendahkan kita yang hanya seorang petani. Sekarang setelah bangkrut dia kesini. Butuh apa minta tolong Bapak. Kok gak malu. Jengkel saya Pak.”
“Bu, sudah sudah jangan diungkit-ungkit lagi, yang lalu biarlah berlalu Bapak sudah ikhlas, sudah memaafkan. Bapak juga gak tega melihat orang yang kesusahan.”
“Gak tega sih gak tega pak tapi mbok lihat sikon. Kan kita juga sedang pailit pak.”
“Sudah Bu, bapak yakin Gusti Allah mboten sare. Nanti pasti akan Allah ganti dengan rejeki yang lebih banyak lagi. Tenang saja Bu.”
“Bapak itu kalau dibilangi selalu ada saja alasannya.”
“Sudah Bu, Bapak mau ke sawah dulu.”
***
Seperti biasanya setiap pagi selepas sholat subuh Bu Sarni sibuk di dapur menyiapkan sarapan dibantu oleh anaknya, Andini. Dapurnya pun masih terlihat sangat sederhana dan sempit bahkan masih menggunakan tungku. Panci-panci berjajar tergantung dipaku yang ditancapkan pada dinding kayu. Di sisi pojok kiri dapur terlihat piring-piring , gelas dan alat dapur lainnya tersusun rapi di rak kayu yang bersanding dengan gentong besar untuk menampung air yang biasa dipakai untuk memasak. Tak jauh dari situ, terlihat sepeda tua yang biasa dipakai Lek Darno untuk pergi ke sawah disandarkan disamping tumpukan kayu sisi kanan dapur dekat dengan pintu. Suasana semakin hangat saat asap terlihat mulai mengepul dari kayu bakar yang sudah terbakar sempurna oleh api yang melahapnya. Suasana dingin dan hangat seketika menyelimuti rumah yang sangat sederhana itu.
“Sarapan dulu pak, nanti masuk angin.” Ucap Bu Sarni
“Nanti bapak sarapan di sawah saja,”
“Ayo Pak sarapan dulu, dari semalem Bapak belum makan malah minum kopi sama merokok terus.” tambah Andini
“Iya nduk, itu Bapakmu dikasih tahu. Jangan ngopi-ngopi terus. Makan sungkan ngopi sama rokok tidak pernah lupa. Gak baik Pak untuk kesehatan.”
“Iya nanti Bapak kurangi, uhuk,uhuk, uhukkk”
“Itu kan Ibu bilang apa?”
“Bapak sih dikasih tahu gak mau, Andini gak mau kalau Bapak sakit.” tukas Andini
“Siapa yang sakit nduk, wong ini cuma batuk biasa. Sudah yuk sarapan. Nanti kamu telat berangkat sekolah.”
“Oh iya Pak. Bapak diminta sambatan di rumah Lek Bejo katanya hari ini mau bangun rumah. Kemarin pas ke sini Bapak belum pulang. Nanti hari minggu katanya juga mau ada kegiatan kerja bakti di balai desa Bapak di undang Pak Lurah untuk memimpin anak-anak muda.”
“Pak Lurah? Kemarin yang kesini siapa Bu?”
“Pak Kadus Tomo Pak. Tapi kalau Bapak capek nanti ibu yang ngomong sama Bu lurah. Biar Bapak diganti yang lain.”
“Gak usah Bu gak papa.”
“Tapi kalau menurut ibu kenapa mesti Bapak terus sih yang ditunjuk kan yang lain yang masih muda juga banyak. Bapak kan juga sudah tua, setiap hari sibuk di sawah.”
“Bapak malah seneng Bu, walaupun sudah tua tapi Bapak masih bisa bermanfaat untuk orang lain. Karena bekerja keras, tolong menolong, gotong royong itu tidak kenal tua atau muda. Kalau masih bisa bermanfaat untuk banyak orang ya akan Bapak lakukan.”
“Iya pak ibu tahu. Tapi ingat jaga kesehatan juga penting Pak.”
“Sehat Bu, Bismillah. Ya sudah Bapak ke rumah Lek Bejo dulu.”
***
Selesai sarapan Lek No bersiap-siap untuk pergi ke sawah. Tak lupa ia membawa cangkul dan sabit yang dikaitkan di boncengan belakang sepedanya. Jarak rumah ke sawah tidak terlalu jauh hanya sekitar 200 meter. Jadi cukup 5 menit saja dari rumah. Sesampainya di sawah, seperti biasanya lek No menyandarkan sepedanya di pohon randu dekat sawah miliknya. Sawah Lek No berada di sebelah timur jalan, petak nomor 3. Lek No melewati galengan yang di sampingnya merupakan sungai kecil. Di pinggiran sungai tersebut terlihat tanaman cabe dan kacang panjang yang tumbuh subur.
“Lek, tumben baru ke sini.” Tanya Sidul sembari menatap wajah Lek No yang terlihat sangat lesu. tidak seperti biasanya
“Iya Dul, tadi ada urusan sebentar.” Jawab Lek No lirih
“Hari minggu ikut kan lek di Balai Desa. Kata Pak lurah nanti mau ada kerja bakti di setiap dusun. Tapi katanya kita disuruh kumpul dulu di balai desa. Mau ada arahan dari Pak Lurah.”
“Insyaallah Dul. Kamu yang masih muda harus semangat.”
“Semangat lek, saya mengikuti jejak Lek No kok. Semoga bisa jadi orang baik yang peduli seperti Lek No.”
“Alah Dul , saya bukan siapa-siapa kok mau mengikuti jejak saya. Harus lebih baik lagi dari saya Dul. Saya ini hanya biji padi yang kecil gak ada apa-apanya.”
“Tapi banyak manfaatnya Lek dan dibutuhkan banyak orang. Ya kan Lek?” Sahut Sidul seraya tersenyum melihat Lek No yang sedang mencabuti rumput liar yang tumbuh di sawahnya.
“Kamu itu bisa saja Dul, Dul….” Suara keduanya seketika berlalu diterpa hembusan angin siang itu.
Namun tak Selang berapa lama Sidul tiba-tiba mendengar benturan yang sangat keras dari arah belakang tepat dari area sawah Lek No. Dengan cepat Sidul melihat ke area persawahan dan mencari sumber dari suara itu. Tak terduga ternyata sesosok tubuh seorang paruh baya tergeletak di tengah persawahan, Ya benar itu adalah Lek No.
“Lek, Lek No bangun lek, lek No bangun Lek, tolooooong,” Sidul langsung panik melihat Lek No tergeletak lemas tak berdaya.
Orang-orang yang berada di sekitar sawah Lek No berlarian menuju ke arah Sidul yang sedang menangisi dan berusaha membangunkan Lek No.
“Lek bangun lek, innaalillaahi wa innaailaihai roojiuun,”
“Lek No mengapa secepat ini lek, baru tadi kita ngobrol.” gumam Sidul sembari menahan sesak di dada. Diiringi tangis teman-teman yang lain. Jenazah dibawa ke rumah duka dan ternyata Andini dan Bu Sarni pun sudah mendengar kabar itu.
“Bapaaaaaaaaakkkkk.”Tangis Andini dan Bu Sarni pecah melihat Lek No telah tiada. semua orang yang berada disana juga menahan sesak meratapi orang yang mereka cintai dan kagumi. orang yang telah banyak berjasa, orang yang berjiwa sosial tinggi. Yang tanpa lelah membantu orang-orang di sekitarnya.
Lek No telah tiada sosok yang berjiwa besar itu kini telah kembali kepada Sang Pemiliknya. Semua orang merasa kehilangan. Hari itu bagaikan petir yang menyambar di siang hari. Jiwa sosialnya tidak akan pernah dilupakan dan akan tetap hidup sampai kapanpun.
***
Siti Khotijah, lahir di Pemalang, Jawa Tengah, 19 November 1990, merupakan lulusan Universitas Pancasakti Tegal tahun 2014. Di 2015 ia hijrah ke Yogyakarta dan bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi sebagai Customer Service Inbound. Selang satu tahun yaitu 2016 ia diterima bekerja sebagai pendamping Program Sosial Pemerintah hingga akhirnya tahun 2021 ia di terima sebagai Guru di SMP Negeri 1 Sragi. Ibu dari satu anak ini aktif mengajar Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Sragi, Kabupaten Pekalongan hingga sekarang. Pernah menulis cerpen di salah satu buku, yaitu
Lewat Kata Hati Bicara (antologi cerpen dan puisi, 2013), Menanam Pelukan (antologi puisi, 2022), Pesan Terakhir untuk Senja (antologi cerpen, 2023), Perempuan dengan Senyum Rembulan (antologi cerpen dan puisi, 2024), serta Pelangi Setelah Hujan (antalogi puisi diterbitkan Nyalanesia tahun 2024), tahun 2025 menulis buku antalogi puisi yang diterbitkan oleh Nyalanesia yaitu dengan judul Pudarnya Kemanusiaan, dan tahun 2026 puisinya muncul pada antologi Pelita Bakti di Hati Anak Negeri.
