Cerpen: Margiati
Jam dinding berlogo Toko Mulia Berkah yang tergantung di dinding sisi kanan dekat pintu kamar Darko sudah menunjukkan pukul 23.50. Namun, mata Darko masih lebar, belum menunjukkan tanda-tanda ngantuk. Berkali-kali Darko berdiri sebentar duduk lagi di tepi dipan kayu berkasur kempet dengan sprei coklat berbunga-bunga yang telah pudar warnanya, pemberian orang tuanya 4 tahun lalu. Sesekali pandangannya dia lempar ke arah jendela kayu sengon tanpa cat, kamar kontrakan sempitnya yang berukuran 4×3 meter yang sengaja tak dikuncinya. Di luar, udara dingin menyergap. Gerimis belum juga reda sejak sore tadi. Meski di perkotaan, Kampung Jatisari jam segini seperti mati.
Wajah Darko makin kusut. Diraihnya kalender yang tergantung di dekat kapstok. Tangannya menelusuri angka-angka yang tertera di bulan Maret. Telunjuknya berhenti pada angka 12. Jari tangannya berputar-putar melingkari angka keramat itu. Matanya kembali dilempar ke arah jendela. Di luar gelap. Segelap hati Darko yang kalut. Tanggal 12 adalah hari yang dipilih Asih Widati, kekasih hatinya untuk upacara ijab kabul pernikahan. Dan sampai detik ini, biaya pernikahan itu masih berupa angan-angan. Masih jauh dari cukup. Bahkan sekadar membeli baju gamis dan kerudung untuk srah-srahan saja Darko belum sanggup memenuhinya. Ini sudah bulan Januari. Waktu yang dimilikinya tinggal dua bulan lagi. Juragan pemilik toko tempat dia bekerja juga tidak bisa menolong apa pun kecuali gaji bulanan yang menjadi haknya.
Sebenarnya Darko bukan tipe lelaki pengecut yang bermodal dengkul saja saat memutuskan akan melamar gadis pujaan hati. Lelaki berkulit coklat bermuka cukup manis ini anak yang rajin dan disiplin. Sebagai seorang karyawan toko yang mengandalkan ijasah SMP, Darko sudah sangat dipercaya oleh juragannya. Kerjanya bagus, orangnya jujur, dan cekatan. Tujuh tahun dia menjadi karyawan di toko Mulia Berkah yang menjual grosiran aneka sembako. Belum pernah Darko melakukan kesalahan ataupun tindakan curang. Juragannya yang asli Pekalongan, tetangga desanya itu sangat mempercayai Darko sebagai kepala gudang. Beberapa kali Darko mendapat bonus dari sang Juragan karena pekerjaannya. Meskupun tak jarang dia sering tidak cocok dengan kelakuan arogan juragannya itu. Mungkin karena dia orang kaya, pikir Darko.
***
“Kang Darko harus pulang ke kampung sekarang! Emak mau ketemu kang Darko”, suara Antin adik bontotnya yang menelepon sore itu terdengar parau di sela isak yang tertahan..
“Baik, Tin. Kalau menunggu dua hari lagi bisa tidak, ya? Biar Kang Darko gajian dulu,” Darko mencoba bernegosiasi dengan adiknya. Walaupun dia jua galau mendengar suara parau adiknya di seberang.
“Harus sekarang, Kang! Suara Antin makin terasa serak dan terdengar gugup
“Ada apa to, Tin? Suara Darko mulai cemas.
Telepon di seberang sudah ditutup. Darko sangat panik. Pasti telah terjadi sesuatu di rumahnya di Pekalongan. Tanpa berpikir panjang, setelah pamit dengan juragannya, Darko segera berkemas. Dengan mengendarai bus Sinar Jaya, sore itu juga Darko segera meluncur pulang kampung. Bus melaju seolah terasa sangat lambat. Berjalan dengan beberapa kali berhenti karena penumpang belum penuh. Tujuh jam perjalanan menuju kampung halaman telah membuat Darko merasa tersiksa.
Di gerbang desa ojek yang ditumpanginya melambat. Udara malam di kampung menusuk tubuhnya yang tak berjaket. Di kejauhan tampak lampu neon sangat terang di pelataran rumah kampungnya. Orang-orang berkerumun. Bapak-bapak duduk di kusi halaman di bawah atap tratak. Ibu-ibu duduk lesehan di serambi rumah kecilnya. Hati Darko makin tak menentu. Dari latar rumahnya tampak terbujur kaku lelaki gagah bapaknya yang sudah terbungkus kain kafan. Membujur di atas dipan kayu di ruang tamu. Darko terisak, berlari, lalu terengah-engah memeluk jasad kaku bapaknya. Wajahnya tertelungkup di atas tubuh kaku, yang diam membisu. Beberapa kerabat tampak mendekat, menenangkan, dan menghibur Darko. Dada Darko sesak. Ada kemarahan besar yang menyumpal di sana.
Darko tak pernah mengira Bapaknya harus meninggal dengan cara seperti itu. Kejadian dua bulan itu masih terus mengganggu pikirannya. Dia tak habis pikir, siapakah orang yang begitu kejam mencelakai bapaknya. Sampai saat ini ada seribu tanda tanya yang terus menghantui. Meski dalam hati kecilnya, terbersit kecurigaan Darko pada seseorang. Meski setelah itu harus ditepisnya pikiran itu jauh-jauh. Bapaknya tewas dengan luka di sekujur tubuhnya. Konon dihajar oleh tiga orang berbadan besar di waktu shubuh saat bapaknya pulang dari masjid dan hendak menuju sawah, di gang belakang rumah. . Sampai saat ini kasusnya masih menjadi misteri. Ada rasa ngilu ketika terdengar berita bahwa kasus kematian bapaknya itu telah ditutup. Keluraga Darko yang sederhana itu menemui jalan buntu. Tak tahu kemana lagi mesti mencari keadilan. Seolah semua pintu telah terkunci. Pembunuh bapaknya pasti bukan orang sembarangan. Tanpa motif. Karena bapaknya yang hanya seorang petani tidak memiliki musuh apalagi harta kekayaan.
***
Hari ini, di pojok gudang tempatnya bekerja, Darko terlihat sangat lesu. Dia duduk seraya memeluk lututnya yang agak kurus akhir-akhir ini. Menyumpal di antar tumpukan kardus barang setinggi atap gudang yang berjubal . tangannya menimang-nimang kunci gudang, Sementara matanya menerawang ke atas langit-langit yang kotor penuh dengan sawang. Kumuh dan pengab.
Dia terus memutar otak agar bisa segera memenuhi keinginan orang tua Asih yang menginginkan pernikahan di bulan Maret tahun ini. Tawaran yang menohok. Lebih sebagai instruksi sebenarnya. “Kamu lamar segera, atau kau tak akan mendapatkan Asih selamanya!” kata Pak Rejo seraya menghisap lintingan rokok kretek di tangannya. Kepulan asap terasa pengap menerpa wajah Darko saat itu. Dadanya mendadak sesak, bukan karena kepulan asap rokok kretek calon mertua yang tubuhnya kerempeng dan duduk di kursi rotan seraya mengangkat satu kakinya di depannya itu, melainkan karena kalimat intruksinya yang membuat dunia Darko tiba-tiba berputar sangat cepat dan hebat. Dia tahu. calon bapak mertuanya ini tak merestui hubungannya dengan Asih, putrinya. Konon dia akan menjodohkannya dengan seorang lelaki kaya yang bekerja di kota. Tapi dia juga tak berdaya, karena Asih setengah mati mencintai Darko.
Di kepala Darko berkelebat aneka persiapan pernikahan dan tetek bengeknya. Adat istiadat pernikahan di desanya masih sangat kental dengan tradisi yang harus ditaati. Darko membayangkan, dia harus melewati tahap nakokke lalu nyangsangi yaitu pihak laki-laki datang bersama keluarga, kerabat dan tetangga. Dengan membawa makanan basah: ada wajik, jenang, ucul-ucul, lemper dan juga makanan lain yang sering disebut dengan istilah kebel. Darko mulai menerka-nerka berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu semua, Sementara tabungannya masih jauh dari cukup.
Darko memutar otak. Karena setelah nyangsangi, dia juga harus memikirkan Pasrahan Tukon, yaitu pihak laki-laki memberikan uang belanja kepada pihak perempuan untuk modal di pernikahan nanti. Acara ini cuma dihadiri pihak keluarga laki-laki saja. Jadi kerabat dan tetangga tidak ikut ke pihak perempuan. Kemudian, setelah itu tiba saatnya lamaran, pada proses lamaran ini ada tukar cincin, yang artinya sudah ada ikatan antara wanita dan laki-laki tersebut. Biasanya keluarga inti juga mengundang keluarga besar dan tetangga untuk berkunjung ke rumah sang wanita. Dalam acara ini biasanya ditentukan tanggal akad dan resepsi pernikahannya. Darko makin tenggelam dalam kegalauan. Dia tinggal punya waktu dua bulan saja. Karenanya dia harus siap lembur siang malam kalau ingin mendapatkan gaji lebih dari juragannya.
Hari lamaran kurang dua hari lagi. Darko tersenyum tipis. Kakinya mantap melangkah menemui juragannya untuk minta doa restu dan izin. Besok dia akan pulang kampung, melamar Asih kekasih hatinya
“ Jadi menikah kamu Dar?” Wah hebat kau ya. Bisa mempesunting gadis cantik kembang desa..” kata Juragan Hambali, duda beranak empat itu seraya tertawa . Darko hanya bisa tersenyum tipis. Ada sorot mata yang sulit diterjemahkan. “ Memangnya kamu sanggup membiayai biaya pernikahan dalam waktu sesingkat ini, Dar? Kau bilang uang tabunganmu kemarin habis untuk mengurus kematian bapakmu yang tidak wajar itu, bukan? “ Juragan Hambali bertanya menyelidik. Darko tampak tidak suka dengan pertanyaan itu. Apalagi Juragan Hambali mengait-ngaitkannya dengan kematian bapaknya yang sampai sekarang terus menjadi misteri. Penyelidikan mengalami jalan buntu. Mungkin karena Darko dan keluarganya tak punya cukup uang untuk melanjutkan perkara. Mereka pasrah akan nasib tragis yang menimpa bapaknya.
“ Eh, maaf, Dar. Kalau saya keceplosan. Aku tak bermaksud menyinggungmu, “ ujar Juragan Hambali sambal menuliskan sesuatu di atas buku catatan dagangannya. Entah mengapa Darko sangat terusik dengan kalimat juragannya kali ini. Ada rasa tidak suka yang menelusup di hatinya dengan kalimat sinisme Juragan Hambali yang dilontarkan padanya barusan.
“ Mohon doa restunya saja, Pak. Setelah selesai acara lamaran, saya pastikan dua hari lagi saya akan kembali. Saya harus kerja lebih keras lagi karena sebulan setelah ini pihak perempuan minta segera digelar acara ijab kabul dan resepsi, “ Darko menjawab dengan agak meninggikan suaranya di depan juragan tokonya yang sudah dia ikuti selama 7 tahun lebih itu. Laki-laki lima puluhan tahun yang berambut semiran klimis juragannya itu manggut-manggut seraya menepuk bahu Darko seolah memberi semangat. Tapi entah mengapa, Darko justru menganggap tepukan sang juragan di pundaknya sebagai isyarat bahwa dia meragukan kesanggupan dirinya menggelar perhelatan..
***
Suara gending kebo giro terdengar perlahan mengiringi langkah dua mempelai menuju pelaminan. Di depannya seorang cucuk lampah dengan dandanan adat jawa tempak semangat njoget seraya memandu adicara. Darko kelihatan gagah dengan pakaian adat pengantin berwarna putih kombinasi kuning dengan mempelai wanita yang mengenakan kain kebaya warna senada. Kata periasnya, baju pengantin mereka merupakan modivikasi pakaian adat Solo dengan pakaian adat Kabupaten Pekalongan. Pengantin perempuan berkerudung dengan warna senada. Mereka berpegengan tangan erat, terlihat aura bahagia keduanya. Beberapa kali tampak pengantin perempuan tersenyum manja kepada Darko yang telah resmi jadi suaminya sejak tadi pagi pukul 09.00 . Darko sesekali membalas senyum perempuan bunga desa yang kini resmi jadi istrinya itu. Raut bahagia sangat tampak di wajah Asih, sang mempelai wanita yang akhirnya berhasil bersanding dengan pujaan hatinya. Sementara, sang mempelai pria terlihat sesekali melempar senyum kepada hadirin, Namun, ada tatapan yang kadang-kadang kosong disela-sela hiruk pikuk suara gending dan tetabuhan.
Setelah pengantin berdua duduk di pelaminan dengan anggun, semua tamu pun duduk di kursi-kursi yang disediakan. Pihak besan duduk berjajar di sebelah kiri, sedang keluarga Darko, minus bapaknya, duduk di sebelah kanan. Perhelatan ala kampung yang cukup meriah. Tamunya cukup banyak. Kebetulan mertua Darko adalah seorang ulu-ulu di desanya. Cukup terpandang. Hadir juga dalam perhelatan itu pak Lurah dan seluruh jajarannya. Bahkan ada juga beberapa pejabat kecamatan,
Tibalah saatnya pengantin melakukan ritual sungkeman. Semua berjalan dengan lancar. Meski Darko berkali-kali harus menahan jatuhnya airmata karena bapaknya tak bisa mendampingi hari bahagianya.Dia sungkem kepada emak dan pak tuo kakak kandung mendiang bapaknya. Emaknya sejak ijab kabul tadi pagi sudah menangis. Bahkan saat ini pun masih kelihatan sembab. Namun, keharuan itu segera sirna setelah acara dilanjutkan dengan balang-balangan suruh yang tampak lucu dengan komentar dari pemandu acara yang cukup receh serta lucu. Semua hadirin tertawa lepas.
Namun, suasana gembira berubah mencekam saat tiba-tiba muncul empat polisi berseragam. Mereka menerobos kerumunan muda mudi yang sedang berebut kembang pengantin. Polisi berseragam dengan pangkat IPTU yang berjalan paling depan itu rupanya bertindak sebagi pemimpin rombongan. Beriringan tiga polisi dengan pangkat berbeda-beda tampak tergesa menuju pelaminan Darko.
“Selamat siang Pak Darko. Izin menyampaikan surat dari atasan kami,” kata Sang Iptu dengan sopan. Semua pengunjung tak bergeming. Riuh rendah suasana perhelatan berubah menjadi sepi mencekam. Darko membuka surat dari sang polisi dengan tangan bergetar. Semua kalimat dalam surat panggilan yang dibacanya tampak mengabur. Tapi ada kalimat yang jelas tertera di sana bahwa ada perintah penangkapan atas nama saudara Darko bin Sukarno atas dakwaan pembobolan gudang barang Toko Berkah Mulia di Jalan Pakualam, Kompleks Pasar Jati Asih, Bekasi. milik Saudara Hambali. Darko terkulai lemas. Rahangnya terkatup rapat. Dadanya turun naik menahan ribuan rasa yang berkecamuk. Tapi dia tak berkata apa-apa. Masih dengan pakaian pengantinnya Darko digelandang menjuju mobil polisi, nyaris tanpa perlawanan. Di pelaminan, seorang perempuan cantik sang kembang desa berbaju pengantin tampak terkulai pingsan dan dikerumuni orang-orang.
Gending kebo giro dan tetabuhan sudah berhenti. Yang terdengar adalah isakan emak Darko dan keluarganya. Suara bisik-bisik tamu pengunjung dan tetangga makin terdengar jelas bergaung. . Di salah satu kursi tamu duduk di barisan paling ujung dekat pintu masuk seorang laki-laki berambut semiran klimis berbaju batik warna abu-abu memandang puas dan menyunggingkan senyum memandang adegan penangkapan Darko. Sorot matanya menunjukkan kemenangan. Tangannya bersedekap Matanya tajam menyorot nakal ke arah mempelai wanita yang masih pingsan. Senyumnya makin lebar, menebar aroma licik penuh keserakahan. Siang itu, udara di desa Darko berubah menjadi pengap bertuba. Matahari ganas menyengat, meluluhlantakkan semua harapan dan mimpi Darko yang bertahun-tahun dirajutnya..
***
Margiati adalah seorang guru Bahasa Indonesia yang berasal dari Magelang dan saat ini mendapat amanah sebagai kepala sekolah di SMPN 1 Sragi Kabupaten Pekalongan. Saat ini tinggal di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Dia memiliki hobi menulis. Beberapa karyanya baik perorangan maupun antologi sudah diterbitkan dan ber-ISBN. Beberapa karyanya yang berbentuk buku fiksi adalah Rinai Hujan Dini Hari ( Kumpulan puisi), Berjumpa di Telaga Surga ( buku antologi motivasi), Jejak-Jejak Asa ( antologi cerpen), Menanam Pelukan (Antologi puisi ), Pesan Terakhir untuk Senja (antologi cerpen), Dari Lelaki di Ujung Senja Hingga Mutasi di Waktu Subuh ( antologi cerpen). Adapun karya-karya berupa artikel ilmiah beberapa diterbitkan di jurnal-jurnal nasional dan koran daerah. Motto hidupnya adalah berkarya dan bermanfaat untuk sesama.